Politik dalam Media, Keaslian Berita Dipertanyakan!
Hampir semua golongan masyarakat mendapatkan masukan berita atau
informasi melalui media, baik itu media elektronik maupun media cetak. Hal
lumrah ketika kita melihat seseorang dengan asiknya dipojokan angkot memainkan
gudgetnya atau di dalam kereta melihat bapak-bapak sedang membaca koran. Itu
membuktikan betapa peran media sangat mempengaruhi kualitas informasi
masyarakat. Namun tidak banyak masyarakat yang menyadari tentang keaslian
berita atau informasi yang mereka baca.
Kenapa informasi di media bisa diragukan keasliannya? Jawabannya
tidak lain karena intrik politik. Seperti yang orang-orang ketahui bahwa media
massa adalah sarana informasi dan komunikasi yang sangat efektif dalam
menyampaikan informasi dan pesan, sehingga akan sangat mudah untuk membentuk
dan mempengaruhi opini publik. Selain itu, media massa juga merupakan salah
satu tempat yang panas untuk dikuasai karena bisa menunjang atau mengangkat
popularitas dan elaktabilitas seseorang. Sehingga membuat banyak orang yang
haus kekuasaan dan mempunyai banyak uang membeli saham-saham media informasi
cetak maupun elektronik.
Media massa sekarang ini sangat relevan dengan apa yang dikatakan
marxian aliran frankfurt “media massa adalah hasil perkawinan genetis antara
bisnis (kepentingan ekonomi dan kekuasaan (kepentingan politik). Di indonesia
sekarang ini teori ini terbukti benar dengan bukti banyaknya pemilik media yang
kaya raya masuk ke ranah perpolitikan atau politisi yang juga kaya raya mulai
merintis bisnis informasinya. Mislnya Abu Rizal Bakrie pemilik Visi Media Asia
sekaligus ketua umum partai GOLKAR dan calon presiden 2014, Surya Paloh pemilik
Media Group sekaligus ketua umum partai NASDEM, Harry Tanoe pemilik MNC Group
sekaligus politisi partai HANURA, dan masih banyak lagi politisi-politisi yang
memiliki perusahaan media massa.
Dengan momen pemilihan umum (PEMILU) 2014 yang semakin mendekat,
media juga semakin memanas, setiap media sibuk mengangkat citra positif para
pemiliknya. Apalagi dari dua calon pasangan presiden dan wakil preseiden
masing-masing dari mereka memiliki medianya sendiri.
Hal seperti itu berdampak
buruk ketika terdapat intrik politik didalamnya. Bahkan bisa menyebabkan perang
antar perusahaan media massa. Saling serang menyerang tokoh lewat berita akan
menjadi tontonan atau bacaan masyarakat yang menjadi konsumen dari berita
mereka tersebut. Satu media menjatuhkan tokoh ini, satu media lainnya
menjatuhkan tokoh yang lainnya lagi.
Dampak terburuknya adalah keaslian berita yang disajikan. Ketika
media memberikan informasi yang dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi itu akan
sangat berdampak pada opini publik. Masyarakat akan terpecah belah karena
ketidakaslian informasi ini. Orang di kampung sini membacanya koran ini, mereka
beranggapan bahwa si Anu itu korupsi dan harus dihukum mati, sedangkan
masyarakat sana membacanya koran sana dan mereka beranggapan si Anu itu tidak
terbukti bersalah,si Anu hanya dijebak dan mereka membela si Anu. Ketika
masyarakat sini dan sana bertemu dan membahas si Anu, bisa terjadi keribuatan.
Cerita konyol seperti itu bisa saja terjadi mengingat masyarakat Indonesia
mudah sekali terpngaruhi, oleh karena itu keaslian berita sangatlah diperlukan.
Pemerintah mungkin harus turun tangan dalam mengawasi pemberitaan
dimedia-media. Memang benar bahwa setiap perusahaan media pastinya memiliki
SIUPP (Surat Izin Usaha Penerbitan Pers), apalagi setelah berakhirnya rezim
ORBA banyak sekali perusahaan media baru yang muncul, namun bukan berarti
kebebasan yang diberikan dipergunakan semena-mena sehingga rakyat terancam
mendapatkan berita yang tidak bertanggung jawab oleh perusahaan media massa. Untuk
menunjang kebutuhan informasi masyarakat Indonesia, seharunya media bisa
bersikap netral tanpa keberpihakan kepada siapapun dengan memberikan berita
yang jujur dan apa adanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar