Jumat, 20 Desember 2013

Seperti Apa Karakter Bangsa Kita


Seperti Apa Karakter Bangsa Kita

Melihat kondisi negara kita tercinta Indonesia ini dari pemberitaan diberbagai media massa memang membuat hati miris, kecewa. Seperti yang kita ketahui pemberitaan yang beredar setiap hari lebih banyak sisi negatifnya dibandingkan sisi positif.
Media selalu diwarnai berita-berita seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, penyelewengan wewenang, konflik, intrik politik, krisis moral, krisis ekonomi, krisis sumber daya manusia, dan berbagai berita yang membuat kita mengernyitkan dahi lainnya. Sedangkan berita tentang prestasi anak bangsa ini seakan terlupakan, kalaupun ada tidak lebih dari berita pelengkap karena media massa lagi kesulitan mencari berita negatif yang sensitif untuk ditambahkan bumbu-bumbu kebohongan yang berlebihan. Atau hanya muncul di bagian bawah layar sebagai running text dan buru-buru menghilang. Kecuali berita tentang prestasi partai politik yang dilebih-lebihkan, itu juga karena media yang memberitakan adalah kepunyaannya orang partai politik tersebut.
Beberapa kalangan masyarakat yang memeiliki tingkat kekritisan yang cukup tinggi mulai bertanya-tanya pada diri mereka sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi pada Indonesia? Sebuah pertanyaan sederhana tetapi cukup untuk memunculkan berbagai variasi jawaban. Karena tulisan ini tentang karekter bangsa, maka jawabannya kita ambil dari perspektif karekter bangsa. Berarti, masalah yang dihadapi bangsa kita selama ini tidak lepas dari pengaruh karekter bangsa yang akhir-akhir ini seperti menghilang dari Indonesia.
Karakter bangsa dalam tataran antropologi dipandang sebagai tata nilai budaya dan keyakinan yang mengejawantah dalam kebudayaan suatu masyarakat dan memancarkan ciri-ciri khas keluar sehingga dapat ditanggapi orang luar sebagai kepribadian masyrakat tersebut (wikipedia).
Karakter bangsa merupakan cerminan dari masyarakat bangsa itu senidiri secara keseluruhan. maka, jika suatu bangsa mempunyai masalah, khususnya masalah internal. Dapat dipastikan masalah tersebut bersumber atau setidaknya berhubungan dengan masyarakat bangsa itu sendiri. Masyarakat itu mulai dari siswa, mahasiswa, pegawai, pengangguran, guru, dosen, pejabat, aparat, hingga pemimpin bangsa tersebut.
Lalu bagaimana karekter bangsa kita, Indonesia? Indonesia adalah sebuah bangsa yang terjajah selama berabad-abad oleh berbagai bangsa di setiap daerahnya. Semua kesengsaraan itu seidikit banyak mempengaruhi karakter bangsa. Membuat masyarakat memiliki mental instan, konsumtif, menghalalkan segala cara demi kemakmurannya. Maka jangan heran jika korupsi dimana-mana. Yang saharusnya sejarah yang panjang seperti itu dapat memberi pelajaran agar masyarakat Indonesia semakin solid, semakin gigih mengahadapi berbagai masalah. Atau mungkin sifat buruk seperti itu dipengaruhi oleh kondisi alam indonesia yang memiliki kekayaan yang luar biasa, menyebabkan kemalasan untuk bekerja keras kepada masyarakatnya. Yang seharusnya kekayaan tersebut dapat dimaksimalkan untuk memakmurkan rakyat.
Indonesia seperti bangsa tanpa landasan karakter yang kuat, lunglai berjalan dihantam bertubi-tubi masalah, baik itu masalah dari dalam maupun tekanan dari luar. Kehilangan karakter bangsa sebagai jati diri bangsa merupakan masalah serius yang harus segera ditanggulangi, dengan menciptakan pemuda-pemudi berkualitas yang memiliki karakter melalui pendidikan semoga sepuluh tahun kedepan Indnonesia menjadi bangsa yang besar, bangsa yang berkarakter.
Usaha untuk membuat bangsa ini memiliki karakter yang bisa dibanggakan tidaklah mudah, perlu kesadaran tinggi untuk mewujudkannya. Terutama para elit polotik yang menjadi wajah bangsa di mata dunia. Akan lebih mudah jika pengembangan karakter telah diajarkan sejak kecil, dan menanamkan bahwa betapa pentingnya karakter yang baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pastilah bangsa ini akan bangga dikenal sebagai bangsa yang berkarakter ketimbang harus di cap sebagai bangsa terkorup ketiga dunia. Karena itulah, kita harus menyadari betapa pentingnya masalah karakter ini.

Muhammad Hatta
Ilmu Politik, FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar